Penulis : Sadri Saputra, S.H.,M.H. (Satgas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia)
Tepat 97 Tahun yang lalu, Sejarah pergerakan pemuda mulai diukir, momentum bersejarah ini, mengilhami lahirnya satu gerakan maha penting dalam sejarah kemeredekaan Indonesia. Ikatan suci dan abadi ini, menandakan betapa pemuda Indonesia berani mengambil sikap dan berperan dalam membangun bangsanya, tidak tanggung-tanggung, Ikrar sumpah pemuda seakan menjadi pengingat bahwa bangsa yang besar bernama Indonesia tidak akan pernah ada tanpa keberagaman yang dijadikan satu kekuatan.
Ikrar maha suci pemuda Indonesia; bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Tiga petikan Sumpah Pemuda yang diikararkan 28 Oktober 1928 adalah pengingat bagi seluruh anak bangsa, bahwa Indonesia sejak lahir telah beragam yang dengan keberagaman-nyalah tidak membuatnya retak tetapi rekat.
Sebagai bagian dari pemuda, Saya mencoba memaknai Sumpah Pemuda dari satu sisi latar belakang saya yang kurang lebih 5 tahun terakhir menjadi bagian dari penjaga kerukunan, kedamaian dan keharmonisan di Masyarakat. Saya memaknai, bahwa Persatuan menjadi harga yang tidak memiliki nilai dan menjadi modal besar bagi Bangsa Indonesia menuju cita-cita gemilang; Indonesia Emas 2045.
Kekuatan Pemuda dalam Merawat Kerukunan
Berbagai bab sejarah, tidak pernah mengingkari peran pemuda di dalamnya, 1908 Boedi Oetomo-menjadi titik awal gerakan kepemudaan, 1928 menjadi revolusi semangat persatuan pemuda dengan sumpahnya, 1945 Pemuda mengambil bagian penting dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 1998 Pemuda kembali menujukkan kekuatannya dalam menumbangkan satu rezim yang dianggap telah mengingkari janji konstitusi, 2019 Gerakan #ReformasiDikorupsi juga menjadi bagian penting dalam fase gerakan Pemuda masa kini.
Rentetan sejarah ini, menunjukkan bahwa betapa kekuatan Pemuda menjadi garda terdepan dalam melihat bangsa Indonesia, Pemuda dipastikan menjadi kontrol sosial atas segala kebijakan dan arah pembangunan pemerintahan.
Tentu dari kekuatan pergerakan ini, Pemuda diharapkan dapat menjadi kekuatan terbesar bangsa Indonesia, dalam mempertahankan keutuhan bangsa, merawat kerukunan dan menjaga nafas persaudaraan. Pemuda harus mengambil peran, mengikatkan diri atas ikrar sumpah pemuda, bahwa tidak ada satupun pemuda di negeri ini lahir untuk dikecualikan sebagai bagian dari generasi Ibu Pertiwi.
Siapapun mereka, apapun latar belakang agama, suku, ras dan strata sosialnya. Pemuda harus tetap satu: Bertumpah Darah, Berbangsa dan Berbahasa satu.
Kekuatan pemuda dalam merawat persatuan, dapat dilihat dari satu irama gerakan pemuda, ia boleh lahir dari berbagai organisasi, namun dalam satu titik tertentu atas kesamaan pandangan terhadap bangsa, kesamaan visi dan tujuan menunjukkan perjumpaan untuk berjalan bersama, melangkah beriringan dan memperjuangkan satu kata: Indonesia.
Perbedaan memang sangat tidak mungkin disamakan, tetapi Pemuda selalu percaya, pada satu momentum Pemuda akan bersatu dan gerakannya akan selalu menjadi catatan penting dalam sejarah Indonesia.
Dari Genggaman Menuju Perdamaian Dunia
Di era yang serba instan, arus informasi yang semakin sulit dibendum, pola hidup yang telah bergeser; dari nyata menuju maya, menyisakan banyak tantang baru.
Pemuda masa kini telah hidup dalam satu fase kehidupan yang dikenal dengan istilah Era post-truth (pascakebenaran).
Kondisi dimana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi.
Dalam era ini, kebenaran menjadi relatif dan sering kali digantikan oleh “fakta alternatif” yang dipengaruhi oleh keyakinan pribadi atau narasi yang emosional dan viral, terutama di media sosial. Fenomena ini dapat mengancam nilai persatuan dan kerukunan karena memudahkan penyebaran informasi yang salah (hoax) dan membuat masyarakat sulit membedakan antara fakta dan kebohongan.
Arus Informasi yang semakin sulit dibedakan antara benar dan salah, menjadi tantangan tersendiri terhadap kerukunan, disinilah genggaman Pemuda dibutuhkan. Pemuda diharapkan dapat peka terhadap fenomena yang mengarahkan orang yang buta pada narasi fakta, tuli pada kebenaran dan bungkam terhadap realitas. Pada titik ini, diperlukan Pemuda yang mampu mencounter narasi, kontra-narasi dan berupaya melakukan jihad moderat di media sosial.
Dari genggaman Pemuda, kampanye kerukunan, keharmonisan dan perdamaian harus selalu digaungkan, Pemuda harus memenuhi ruang-ruang digital dengan bahasan-bahasan yang menyejukkan, mengajak pada persatuan dan berjuangan terhadap perdamaian.
Pemuda, Lokomotif Pembawa Perubahan
Ir. Soekarno selalu percaya, bahkan ia menitipkan Indonesia ditangan anak muda, dalam satu momentum ia berkata “Berikan Aku 10 Pemuda, Maka Akan Aku Guncangkan Dunia” petikan ini menjadi mantra maha spektakuler, mimpi Indonesia ada dipundak Pemuda.
Kita juga sering mendengar “Jika Ingin Melihat Indonesia, Lihatlah Pemudanya Hari Ini”.
Konsensus ini, menunjukkan bahwa Perubahan satu bangsa berada pada tangan hebat Pemuda-nya. Pemuda sebagai agent of change (Pembawa Perubahan), tidak boleh mendikotomi antar sesama anak bangsa.
Pemuda adalah lokomotif yang membawa mimpi besar 286 juta jiwa Masyarakat Indonesia, arah pembangun juga sepenuhnya ditangan pemuda, hal ini dapat dilihat pada pemilihan 2024 yang lalu, suara pemuda menjadi moyaritas dalam suara sah.
Itu artinya, jika pemuda bergerak bersama, menyatukan mimpi, menyamakan persepsi dan mengiramakan langkah, bukan mustahil; Indonesia akan menunjukkan mimpinya sebagai negara yang berdaulat dan mampu berdiri di kaki sendiri.
Jika Pemuda adalah lokomotif pembawa perubahan, maka Pemuda tidak boleh melupakan jati dirinya; Bertanah Air Satu, Berbangsa Satu dan Berbahasa Satu. Sebab, tidak ada Perubahan Besar tanpa Persatuan yang mengirinya. Selamat Hari Sumpah Pemuda.














Komentar